Hak waris anak dari perkawinan pertama ayah terhadap harta peninggalan ayah dan istri kedua

04/07/26

Oleh : Sit***

Dijawab oleh : Asiyah Budiarti (Penyuluh Hukum Ahli Madya), Teguh Ariyadi (Penyuluh Hukum Ahli Madya)

Pertanyaan:
Saya mewakili orang lain (keluarga) yang mempunyai kartu tidak mampu, jadi singkatnya belum tau detail mengenai surat2 karena ini menyangkut orang yang sudah kebanyakan tidak tiada , cerita singkat, A duda dengan 1 anak ( misal namanya C) , menikah lagi dengan B janda yang tanpa anak, dari pernikahan A dan B mendapat 4 anak. Saat A dan B sudah tidak ada , apakah C tidak berhak mendapatkannya karena status bukan anak kandung kedua pasangan? Melainkan anak hanya dari sang ayah dengan pernikahan sebelumnya. Jadi yang menceritakan ini adalah salah satu dari anak C

Terima kasih atas pertanyaan saudara Sit********* kepada Badan Pembinaan Hukum Nasional.

Secara hukum, ada 2 (dua) aturan hukum yang mengatur tentang waris di Indonesia yaitu Hukum Waris Perdata/BW dan Kompilasi Hukum Islam/KHI. Hukum Waris Perdata/BW berlaku bagi warga negara non Islam sedangkan Kompilasi Hukum Islam/KHI. bagi yang beragama Islam.  

Secara hukum, baik Hukum Waris Perdata/BW maupun Kompilasi Hukum Islam/KHI,  C tetap berhak mendapatkan bagian warisan dari harta peninggalan ayahnya (A). Status C sebagai anak dari pernikahan A sebelumnya tidak menghilangkan hak warisnya sama sekali, karena C adalah anak kandung dari Ayah (A).

Hal ini karena:

  • C adalah anak kandung A, sehingga C memiliki hubungan darah langsung dengan A.

  • Saat A meninggal dunia, C berhak menerima warisan dari harta milik A (termasuk bagian A dari harta bersama/gono-gini antara A dan B).

  • C memiliki kedudukan dan porsi waris yang setara dengan 4 saudara tirinya (anak-anak dari A dan B) atas harta milik A.

C tidak berhak menerima warisan dari harta pribadi/bawaan milik B (ibu tiri) karena secara hukum tidak ada hubungan darah langsung antara C dan B. C bisa mendapat waris dari B jika  B membuat surat wasiat atau hibah resmi untuk C sewaktu masih hidup.

Pembagian Harta Warisan dapat dilakukan dengan skema berikut:

Jika A dan B memiliki harta bersama (harta gono-gini) yang diperoleh selama pernikahan mereka:

  1. Pemisahan Harta Gono-Gini:

    • 50% menjadi hak/bagian Almarhum A.

    • 50% menjadi hak/bagian Almarhumah B.

  2. Pembagian Hak C:

    • Bagian 50% milik A akan dibagi rata/sesuai hukum waris kepada seluruh 5 anak kandung A (yaitu C + 4 anak dari pernikahan A-B).

    • Bagian 50% milik B hanya akan dibagi kepada 4 anak kandung B (anak-anak dari A-B).

Agar C bisa memperoleh hak warisnya, ada beberapa langkah hukum yang dapat dilakukan serta dokumen yang diperlukan:

  • Surat Keterangan Ahli Waris (SKAW): Dibuat melalui RT/RW, Kelurahan/Desa, dan disahkan oleh Kecamatan. Di surat ini, nama C wajib dicantumkan sebagai salah satu anak kandung/ahli waris dari A.

  • Akta Kelahiran C: Dokumen utama untuk membuktikan bahwa C adalah anak kandung sah dari A.                                                                                              

Dasar Hukum                                                                                                               1.KUHPerdata;                                                                                                                
2. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
0

Pertanyaan Lanjutan

Tidak ada pertanyaan lanjutan

Diskusi Konsultasi

Silakan login terlebih dahulu untuk menambahkan komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!