Permohonan Hak Asuh Anak oleh Ibu Pasca Perceraian dengan Pertimbangan Kemampuan Finansial Ayah
22/08/22Oleh : Dan***
Dijawab oleh : Admin Konsultasi Hukum
Pertanyaan:
Saya mau bertanya: saya kan bercerai dengan suami saya dan saya memiliki 1 anak perempuan dari pernikahan saya , anak saya sekarang berusia 2 tahun kalau misalnya saya mau merebut hak asuh anak saya "ibu" apa bisa ? Sedangkan secara faktor ekonomi mantan suami saya lebih mampu secara finansial
Terima kasih atas pertanyaan saudara Dan*** kepada Badan Pembinaan Hukum Nasional.
Dijawab oleh: Febi Ardhianti, S.E. (Penyuluh Hukum Ahli Muda)
Terima kasih atas pertanyaan saudara, kepada kami Penyuluh Hukum pada Badan
Pembinaan Hukum Nasional. Dari pertanyaan saudara dapat kami simpulkan sebagai
berikut:
1. Saudara sudah bercerai dengan suami saudara, dan memiliki anak perempuan
2. Dari perceraian tersebut hak asuh anak jatuh ketangan suami
3. Sekarang anak saudara telah berumur 2
4. Sedangkan secara faktor ekonomi mantan suami saya lebih mampu secara finansial
Pertanyaan saudara, apakah saudara dapat merebut hak asuh anak saudara.
Hak asuh anak menurut Pasal 45 Undang- undang Nomor 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan (UU Perkawinan) Mengenai kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya,
berbunyi sebagai berikut:
1. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.
2. Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu
kawin atau dapat berdiri sendiri, kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan
antara kedua orang tua putus.
Yang dimaksud anak menurut Pasal 1 angka 1 Undang- Undang Nomor 35Tahun 2014
tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak (UU 35/2014 Perlindungan Anak) menegaskan: “Anak adalah seseorang yang
belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”
Selajutnya kami akan menjelaskan tentang Hak Asuh Anak dalam Perceraian. Dalam
perceraian dikenal pula istilah kuasa asuh, yakni kekuasaan orang tua untuk mengasuh,
mendidik, memelihara, membina, melindungi, dan menumbuhkembangkan anak sesuai
dengan agama yang dianutnya dan sesuai dengan kemampuan, bakat, serta minatnya.
(Pasal 1 angka 11 UU 35/2014 Perlindungan Anak)
Adapun salah satu masalah yang sering muncul dari perceraian adalah mengenai hak
asuh anak. Siapa yang paling berhak atas hak asuh anak jika perkawinan orang tua putus
karena perceraian. Mengacu bunyi Pasal 45 ayat (2) UU Perkawinan di atas
mengindikasikan bahwa kasih sayang orang tua terhadap anak tidak boleh diputus
ataupun dihalang-halangi. Adanya penguasaan anak secara formil oleh salah satu pihak
pada hakikatnya untuk mengakhiri sengketa perebutan anak. Apabila sengketa itu tidak
diputus di pengadilan, akan menjadi berlarut-larut, sehingga dampaknya anak menjadi
korban, walaupun harus diakui juga bahwa banyak sekali yang tidak mempersoalkan hak
asuh anak setelah proses perceraian karena keduanya sepakat mengasuh dan mendidik
anak bersama-sama.
Hal ini sejalan dengan Pasal 41 UU Perkawinan yang mengatur akibat putusnya
perkawinan karena perceraian ialah:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya,
semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada perselisihan mengenai
penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya;
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang
diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi
kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya
tersebut;
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya
penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.
Mengenai hak asuh anak, UU Perkawinan tidak mengatur secara khusus siapa yang
berhak mendapatkan hak asuh atas anak yang belum berusia 12 tahun. Melainkan hanya
mengatur hak asuh anak pasca bercerai, kedua belah pihak tetap wajib memelihara dan
mendidik anak-anaknya dan jika ada perselisihan hak asuh anak, Pengadilan yang akan
memberi keputusannya.
Peraturan mengenai hak asuh anak dalam perceraian lainnya ada di dalam Putusan
Mahkamah Agung Nomor 102 K/Sip/1973 tanggal 24 April 1975. Dalam putusan ini juga
dikatakan bahwa dalam penentuan pemberian hak asuh anak dalam perceraian haruslah
mengutamakan ibu kandung. Terlebih lagi untuk hak asuh anak yang masih di bawah
umur atau 12 tahun kebawah. Hal ini ditetapkan dengan melihat kepentingan anak yang
membutuhkan sosok ibu.
Meski begitu, pemberian hak asuh anak kepada sang ayah juga bisa saja terjadi dalam
perceraian. Pasal 156 huruf (c) Kompilasi Hukum Islam (KHI) menjelaskan bahwa
seorang ibu bisa kehilangan hak asuh anak sekalipun masih berusia di bawah 12 tahun
apabila ia tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak. Bila demikian, atas
permintaan kerabat yang bersangkutan, Pengadilan Agama dapat memindahkan hak asuh
pada kerabat lain.
Sedangkan dalam hukum Islam, aturan hak asuh anak yang perceraian orang tuanya
diputus oleh Pengadilan Agama tercantum di Pasal 105 KHI yang menyatakan:
Dalam hal terjadinya perceraian:
a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah
hak ibunya;
b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih
di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya;
c. Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.
Selanjutnya akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah: Pasal 156 KHI
a. anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dan ibunya, kecuali bila
ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:
1. wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;
2. ayah;
3. wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah;
4. saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;
5. wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.
b. anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah dari ayah
atau ibunya;
c. apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan
rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas
permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak
hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula;
d. semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut
kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus
diri sendiri (21 tahun);
e. bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan
Agama memberikan putusannya berdasarkan huruf (a), (b), dan (d);
f. pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah
biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya.
Jika terjadi perselisihan antara ibu dan ayah terkait dengan hak asuh anak, dalam hal ini
utamanya adalah anak yang berusia di bawah 5 tahun. Pada dasarnya pembagian dan
pemberian hak asuh yang diberikan oleh pengadilan akan mempertimbangkan untuk siapa
dari kedua orang tua tersebut yang lebih layak dalam mendapatkan hak asuh anak yang
sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun jika merujuk pada Pasal 105 KHI, menjelaskan
mengenai hak asuh anak dalam perceraian dengan usia anak dibawah 12 tahun diberikan
kepada sang ibu. Meskipun begitu ayah tetap menanggung seluruh biaya pemeliharaan
anak tersebut. Namun begitu, ibu juga masih bisa kehilangan hak asuhnya.
Berikut beberapa sebab ibu kehilangan hak asuh anak:
a. Seorang ibu berperilaku buruk.
b. Seorang ibu yang masuk ke dalam penjara.
c. Seorang ibu tidak bisa menjamin kesehatan jasmani dan rohani anaknya.
Sebab- sebab tersebut juga bisa menjadi sebab-sebab hak asuh anak dari ibu beralih ke
ayah. Ibu serta dianggap tidak cakap untuk menjadi seorang ibu terutama dalam mendidik
anaknya. Yang diutamakan itu adalah untuk kebaikan si anak.
Kemungkinan ini dapat dilihat dalam Pasal 156 huruf c KHI bahwa seorang Ayah bisa
kehilangan terhadap anaknya sekalipun si anak meskipun putusan pengadilan ak asuh
anak jatuh ditanggan ayah: “apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin
keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah
dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat
memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula.”
Sehingga berdasarkan ketentuan itu, si ibu bisa mengajukan permohonan ke Pengadilan
Agama terkait pemindahan hak asuh anak (hadhanah) yang tentunya disertai dengan
alasan-alasan yang kuat untuk mendukung terkabulnya permohonan peralihan hak asuh
anak tersebut.
Demikian penjelasan tentang permasalahan hukum saudara, semoga dapat bermanfaat dan
membantu.
Dasar hukum:
1. Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang- Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
2. Undang – undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana
diubah dengan Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan diubah
kedua kalinya dengan Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak.
3. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum
Islam.
4. Putusan Mahkamah Agung Nomor 102 K/Sip/1973
Pernyataan Penyangkalan / Disclaimer
Jawaban konsultasi hukum semata-mata hanya sebagai pendapat hukum bersifat umum dan
disediakan untuk tujuan pendidikan serta tidak memiliki kekuatan hukum, yang tetap dan
tidak mengikat sebagaimana putusan pengadilan.
Untuk suatu nasihat hukum yang dapat diterapkan pada kasus yang Anda hadapi, Anda
dapat menghubungi seorang penasihat hukum yang kompeten.
Mohon kepada Bapak/Ibu untuk mengisi survey Indeks Kepuasan Masyarakat atas layanan konsultasi hukum gratis. Silahkan klik tautan dibawah ini:
https://survei.balitbangham.go.id/ly/AqYt83xH
Terimakasih.
0
Pertanyaan Lanjutan
Tidak ada pertanyaan lanjutan
Diskusi Konsultasi
Silakan login terlebih dahulu untuk menambahkan komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!